So you want to get Ph.D in Political Science? Video ini saya temukan di sini ketika sedang iseng mencari materi terkait ilmu politik. Saya merasa tergelitik ketika menonton dan membaca diskusi pada kolom komentar video ini. Antara harus menyepakati karena realita yang terjadi, atau berusaha tidak menyepakati karena masih ada sisa-sisa ekspektasi yang sedang berusaha dibuktikan untuk membantah berbagai teori yang mengatakan 'sarjana ilmu politik tidak memiliki prospek masa depan yang bagus'. "Studying political science as major subject is very fun. I recommend it for anyone who has rich parents willing to support him/her for the rest of the life." Membaca komentar sarkas tersebut, saya teringat percakapan beberapa hari lalu dengan Mas Hasbi tentang betapa sulitnya lulusan ilmu politik mencari pekerjaan. Memang tak semuanya, tapi kenyataannya, beberapa teman juga mengeluhkan hal ini. Omong-omong tentang sarjana politik, berdasar pengalaman...
"Buk, bikin donat kentang kayak pas aku kecil dulu dong." rengek Bima, adik saya, sepulang kerja, kepada Ibu. Ia memang kadang suka random. Tiba-tiba minta sesuatu yang seringkali kurang penting-penting amat. Ibu meresponnya malas. "Besok ae beli di Irama, nggak usah soro-soro (*ribet yang bikin sengsara aha) ." Irama adalah toko kue paling tersohor di desa saya, yang punya berbagai macam donat dengan harga murah meriah; seribu lima ratus rupiah saja perbiji. Saya cuma terkekeh. Ibu sedang ribut masalah pemberkasan golongan yang baginya semakin rumit. Sebab, beliau harus punya tulisan ilmiah atau penelitian yang dipublikasikan di media cetak. Sebagaimana dugaan banyak orang, generasi ibu saya memang agak sulit dituntut mengikuti kriteria yang tak pernah ada pada zamannya dulu. :)) Dan permintaan membuat donat kentang, jika dipaksakan, akan membuat beliau terus bicara dengan nada tinggi diselingi curhatannya soal itu itu lagi. Karena saya ingin berterimakas...
Sesulit apapun bahasa prancis, kalau berlatih terus menerus pasti bisa ditaklukkan! Pertengahan tahun 2016 lalu, saya mulai punya ketertarikan untuk belajar bahasa Prancis. Mulanya, saya hanya familiar dengan kata "Je t'aime, bonjour, dan merci". Itupun, dengan keterbatasan pengetahuan tentang pelafalan yang benar. Selama kurang lebih empat bulan, saya belajar secara otodidak di Indonesia dengan beragam media yang tersedia secara gratis di internet. Hari ini, setelah tiga tahun lebih tinggal di Prancis, saya mulai bisa menonton film-film dalam bahasa Prancis tanpa subtitle, mengikuti kuliah jurusan sosial yang harus banyak mendengar, mencatat, menulis dan presentasi Full in French, berkomunikasi untuk kebutuhan sehari-hari, dan survive di negara ini melalui pekerjaan-pekerjaan part time mahasiswa yang menuntut kemampuan berbahasa prancis. Ternyata, sesulit apapun bahasa prancis, kalau ditekuni pasti bisa dikuasai. Saya bisa, siapapun juga bisa! Ol...
Comments
Post a Comment